Majalengka – Kenaikan harga cabai rawit merah di sejumlah pasar tradisional Kabupaten Majalengka ternyata tidak dirasakan para petani. Petani cabai di Desa Sukasari Kidul, Kecamatan Argapura, mengaku tetap merugi meski harga cabai di tingkat konsumen menembus Rp85 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram.
Petani menyebut harga jual di tingkat petani jauh lebih rendah dibanding harga di pasar, sehingga terjadi kesenjangan yang cukup besar antara harga produksi dan harga eceran.
Selain persoalan distribusi, cuaca ekstrem dalam beberapa waktu terakhir turut memperparah kondisi petani. Tingginya curah hujan menyebabkan banyak tanaman cabai membusuk, sementara daun dan bunga berguguran sehingga menurunkan hasil panen.
Salah seorang petani cabai asal Desa Sukasari Kidul, Heri, mengatakan hasil panen mengalami penurunan signifikan akibat kondisi cuaca.
“Biasanya sekali panen bisa mencapai 40 kilogram, sekarang hanya sekitar 20 kilogram karena cuaca ekstrem,” ujarnya, Jumat (13/2/2026).
Menurutnya, kenaikan harga cabai di pasaran tidak serta-merta meningkatkan pendapatan petani karena biaya produksi terus meningkat, mulai dari pupuk, perawatan tanaman, hingga tenaga kerja.
Para petani berharap pemerintah dapat membantu menstabilkan harga serta memperbaiki sistem distribusi agar selisih harga antara petani dan pasar tidak terlalu jauh, sehingga kerugian yang dialami petani dapat ditekan.












