BANJARMASIN – Film Kuyank garapan sutradara asal Kalimantan Selatan, Johansyah Jumberan atau Joe, menembus jajaran nominasi film dengan jumlah penonton terbanyak di bioskop Indonesia. Capaian tersebut menempatkan karya sineas Banua itu dalam peta persaingan perfilman nasional yang didominasi rumah produksi besar.
Film bergenre horor budaya ini mendapat respons luas sejak awal penayangan. Antusiasme penonton disebut masih terus bergerak, membuka peluang peningkatan jumlah tiket terjual dalam beberapa pekan ke depan.
Joe lahir dan besar di Nagara, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS). Alumni MAN 3 Nagara itu memulai perjalanan kreatifnya dari kegemaran menulis sejak remaja sebelum merantau ke Jakarta dan menekuni dunia perfilman secara profesional. Di Kuyang, ia tak hanya duduk di kursi sutradara, tetapi juga terlibat sebagai penulis skenario dan produser.
Daya tarik film ini tidak semata terletak pada alur cerita dan karakter seperti Irus dan Badri, tetapi juga pada kekuatan representasi budaya Banjar yang dihadirkan secara detail. Joe memasukkan elemen adat secara natural tanpa terasa tempelan.
Adegan prosesi pernikahan yang menampilkan tradisi bausung serta keberadaan piduduk di pelaminan menjadi salah satu contoh penggambaran budaya lokal yang autentik. Representasi tersebut memberi identitas kuat pada film sekaligus memperkenalkan tradisi Banjar kepada penonton nasional.
Selain aspek budaya, lanskap khas Nagara yang identik dengan wilayah perairan turut memperkuat visual film. Sejumlah adegan, termasuk prosesi pemakaman di atas air dan lomba jukung sudur, menghadirkan atmosfer lokal yang jarang muncul dalam produksi arus utama.
Keberhasilan Kuyank menunjukkan bahwa karya sineas daerah mampu bersaing di industri perfilman nasional, terutama ketika menggabungkan cerita populer dengan akar budaya yang kuat.
Film ini bukan hanya menjadi tontonan, tetapi juga ruang representasi identitas Banua di layar lebar Indonesia.












