TANAH LAUT — Perayaan Hari Jadi ke-60 Kabupaten Tanah Laut berlangsung meriah pada Selasa pagi, namun satu kegiatan sederhana justru mencuri perhatian: lomba nasi tumpeng yang diikuti 50 peserta dari sekolah, instansi pemerintah, hingga komunitas masyarakat.
Di area acara, deretan tumpeng berbagai bentuk tampak disusun rapi—mulai dari tumpeng tradisional berwarna kuning hingga kreasi modern dengan hiasan sayur dan lauk yang ditata artistik. Banyak peserta terlihat sibuk melakukan sentuhan akhir sebelum penilaian dimulai.
Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Tanah Laut, Mirza Fadzrina, mengatakan lomba ini bukan sekadar kompetisi kuliner, tetapi cara merayakan identitas budaya.
“Tumpeng adalah simbol syukur dalam tradisi kita. Melalui lomba ini, kita ingin menghidupkan kembali nilai kebersamaan dan kreativitas,” ujarnya di lokasi kegiatan.
Dewan juri menilai berdasarkan empat unsur: bentuk, filosofi penyajian, cita rasa, serta keragaman lauk. Sejumlah peserta bahkan menyertakan cerita di balik tumpeng yang mereka buat—mulai dari arti warna, tata letak lauk, hingga filosofi gunungan pada puncak tumpeng.
Di tengah riuh masyarakat yang berfoto dan mendokumentasikan setiap karya, lomba tumpeng ini terasa seperti ruang perjumpaan antargenerasi. Anak muda, guru, pelaku UMKM, hingga pegawai instansi tampak terlibat aktif.
Mirza menyebut antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa tradisi kuliner masih memiliki tempat penting dalam identitas Tanah Laut.
“Ini bukan acara seremonial. Ini ruang publik untuk menampilkan kekayaan budaya daerah,” tambahnya.
Pemerintah daerah memastikan bahwa festival budaya seperti ini akan terus diperkuat pada tahun-tahun berikutnya—tidak hanya untuk pelestarian tradisi, tetapi juga untuk memperkenalkan Tanah Laut sebagai daerah dengan kekayaan budaya yang patut dikunjungi.












