YOGYAKARTA – Festival Film Pelajar Jogja (FFPJ) XVII digelar di Kampus Fakultas Seni Media Rekam Institut Seni Indonesia (FSMR ISI) Yogyakarta pada 12-13 September 2026.
Sejumlah kegiatan dijadwalkan dalam acara tersebut, di antaranya Apresiasi Seni Film, Bedah Karya Film Pendek Pelajar, Sarasehan Paradigma Berfilm, Dialog Bahasa Visual, Temu Komunitas Pelajar dan Penganugerahan Karya.
Pendiri FFPJ Tomy Widiyatno Taslim mengatakan penyelenggaraan tahun ini mendapat dukungan dari keluarga besar FSMR ISI Yogyakarta. Dukungan tersebut, kata dia, telah diberikan sejak FFPJ pertama kali digelar pada 2010.
“Tahun ini FFPJ mendapatkan kesempatan baik untuk dilaksanakan di Kampus FSMR ISI Yogyakarta. Banyak dukungan yang diberikan oleh keluarga besar FSMR ISI untuk FFPJ. Semoga momen ini terus terjaga dan berkelanjutan karena pada dasarnya sejak penyelenggaraan perdana di tahun 2010 dulu FSMR ISI selalu memberikan dukungannya dalam berbagai bentuk,” kata Tomy dalam keterangan tertulisnya.
Partisipan yang telah mengonfirmasi kehadiran berasal dari sejumlah sekolah menengah tingkat atas dan daerah di Indonesia. Mereka antara lain berasal dari Cimahi, Jakarta, Mamasa, Padang, Banjarmasin, Pekalongan, Pontianak, Majenang Cilacap, Pesawaran, Madiun, Kudus, Binjai, Sukabumi, Pati dan Tulungagung.
“Lebih kurang 100 partisipan akan hadir ke Yogyakarta secara mandiri,” ujarnya.
Dalam Bedah Karya Film Pendek Pelajar, peserta akan berdiskusi bersama sutradara film Senoaji Julis dari Hompimpa Sinema Nusantara serta dosen film FSMR ISI Yogyakarta Febfi Setyawati dan Pius Rino Pungkiawan.
Sarasehan Paradigma Berfilm menghadirkan sutradara BW Purba Negara, anggota Lembaga Sensor Film Indonesia Hairus Salim dan dosen film FSMR ISI Antonius Janu Haryono.
Sementara dalam Dialog Bahasa Visual, tim Program Studi Film FSMR ISI Yogyakarta akan berdialog dengan peserta mengenai film, bahasa visual dan hal-hal terkait.
FFPJ XVII juga menggelar kompetisi nasional film pendek dalam empat kategori, yakni Fiksi, Dokumenter, Eksperimental dan Animasi.
Sebanyak 127 karya dari berbagai sekolah di Indonesia mengikuti kompetisi tersebut. Setelah diseleksi kurator Budi Sulistyo, sebanyak 30 karya ditetapkan sebagai nomine.
Karya terpilih dinilai berdasarkan kedekatan dengan tema “Mulat Sarira”, kekhasan cerita, cara bercerita dan aspek teknis. Juri kompetisi nasional berasal dari ISI Yogyakarta, yakni Deddy Setyawan, Latief Rakhman Hakim, Agni Saraswati dan Heri Nugroho.
Penghargaan yang diberikan meliputi Saraswati Award untuk Fiksi Terbaik, Dewantara Award untuk Dokumenter Terbaik, Niskala Award untuk Eksperimental Terbaik dan Rupagati Award untuk Animasi Terbaik. Pemenangnya akan ditetapkan pada acara puncak.
Menurut Tomy, acara tersebut juga menjadi pertemuan peserta yang merupakan pelajar tingkat SMA dari berbagai daerah. Selama dua hari, peserta akan mengikuti kegiatan formal maupun informal, berdialog dan berbagi perspektif.
“Khusus di festival tahun ke-17 ini, FFPJ akan mengajak partisipan berefleksi bersama. Ada beberapa pertanyaan pemantik yang coba ditanggapi bareng, seperti apa tujuan berpartisipasi di FFPJ, mengapa FFPJ diselenggarakan, bagaimana dinamika festival selama ini, apa substansi yang dijaga di FFPJ, adakah nilai-nilai yang terus dirawat, dan lainnya,” ungkapnya.
FFPJ XVII 2026 mengangkat tema “Mulat Sarira”. Istilah tersebut berasal dari bahasa Sanskerta dan dikenal dalam tradisi Bali dan Jawa. Maknanya berkaitan dengan introspeksi, refleksi, kontemplasi dan koreksi terhadap diri sendiri.
“Perayaan acara puncak FFPJ XVII 2026 di FSMR ISI ini kami tandai dan jalani sebagai refleksi. Selain tetap bersilaturahmi dengan berbagai pihak, belajar bersama dengan para ahli yang berkenan berbagi pengalaman, kami juga menyadari bahwa FFPJ merupakan sebuah entitas kecil. Selama ini FFPJ telah banyak didukung berbagai pihak dalam perjalanannya, termasuk FSMR ISI,” kata Tomy.
Sebelum acara puncak, FFPJ menggelar Sinema Silaturahmi pada 1-9 September 2026. Tim FFPJ mengunjungi sejumlah sekolah dan komunitas di empat kabupaten dan satu kota di DIY.
Sekolah dan komunitas yang didatangi yakni SMAN 1 Temon Kulon Progo, SMAN 1 Seyegan, SMA Muhammadiyah Kasihan Bantul, SMKN 7 Yogyakarta, SMA Bumi Cendekia Yogyakarta dan Komunitas Kedai Kopi 69 Wonosari. Kegiatan di Wonosari juga melibatkan pelajar SMAN 1 Wonosari.
Sinema Silaturahmi berupa pemutaran film dan diskusi tersebut melibatkan sekitar 300 pelajar.
Rangkaian FFPJ XVII telah dimulai sejak 1 Januari 2026 melalui program kompetisi yang berlangsung hingga Juli. Selama periode tersebut, FFPJ melakukan sosialisasi, edukasi dan pendampingan secara daring maupun langsung. Proses kurasi film berlangsung sepanjang Agustus.
Acara puncak digelar pada 12-13 September 2026 di Kampus FSMR ISI Yogyakarta. FFPJ XVII 2026 mendapat bantuan dari FSMR ISI Yogyakarta serta dukungan Dinas Kebudayaan DIY dan sejumlah mitra lainnya.












