Scroll untuk baca artikel

Tabligh Akbar 2026

HUT ke-23 Tanah Bumbu

Lihat Info
Dunia–Internasional

HWPL Gelar Workshop Jurnalisme Perdamaian Global

×

HWPL Gelar Workshop Jurnalisme Perdamaian Global

Sebarkan artikel ini
Tampilan layar peserta workshop internasional jurnalisme perdamaian HWPL yang diikuti jurnalis dari berbagai negara secara daring
Ratusan jurnalis dari berbagai negara mengikuti Workshop Internasional Jurnalisme Perdamaian yang digelar HWPL secara daring, Sabtu (18/4/2026). (Foto Istimewa)

Jakarta – Heavenly Culture World Peace Restoration of Light (HWPL) menggelar Workshop Internasional Jurnalisme Perdamaian secara daring pada 18 April 2026. Kegiatan ini diikuti sekitar 220 jurnalis dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

Mengusung tema “Reporting Solutions in the Age of News Avoidance: Strengthening Audience Agency through Media-Civil Peace Collaboration”, workshop ini membahas peran media dalam menghadapi fenomena penghindaran berita, mereduksi konflik, serta mendorong perdamaian melalui pendekatan jurnalisme berbasis solusi.

Tiga jurnalis yang berkontribusi dalam Journal HWPL Peace Journalism Studies Volume 4 menjadi pembicara utama dalam kegiatan tersebut. Mereka menekankan pentingnya jurnalisme yang tidak hanya melaporkan peristiwa, tetapi juga menghadirkan solusi dan perspektif konstruktif.

Jurnalis Indepthnews.id, Achmad Yani, memaparkan riset mengenai peran narasi media internasional dalam mereduksi konflik Thailand–Kamboja. Ia menyebut framing media sangat memengaruhi persepsi publik.

Dari analisis terhadap 19 artikel media global, sekitar 64 persen pemberitaan berfokus pada konflik militer dan ketegangan politik. Sementara itu, dampak terhadap lebih dari 200.000 warga sipil yang mengungsi kurang mendapat perhatian.

“Media membentuk pemahaman publik, baik melalui informasi yang ditampilkan maupun yang diabaikan,” ujarnya.

Sementara itu, jurnalis mediabanjarmasin.com, Ida Yusnita, menekankan bahwa perdamaian merupakan hak asasi manusia yang harus dijaga bersama.

Ia menjelaskan, perdamaian tidak hanya berarti ketiadaan konflik, tetapi juga mencakup keamanan, keadilan, dan kesetaraan sosial. Menurutnya, peran negara, masyarakat, dan media menjadi kunci dalam menciptakan kondisi tersebut.

Adapun jurnalis sekaligus akademisi dari Republik Dominika, José Nicolás Arroyo Ramos, menyoroti fenomena “kekerasan diskursif” dalam media.

Ia menjelaskan, konten emosional yang belum terverifikasi di era digital dapat memperkuat polarisasi dan menyederhanakan persoalan kompleks menjadi narasi yang berlawanan.

Baca Juga  Komite Baru Diluncurkan untuk Mendorong Unifikasi Damai Semenanjung Korea

Sebagai alternatif, ia mendorong penerapan jurnalisme perdamaian yang mengedepankan analisis akar masalah, keberagaman perspektif, serta solusi konstruktif.

Workshop ini juga memperkenalkan Media Association for Global Peace (MAGP), sebuah jaringan global berbasis platform digital yang menghubungkan jurnalis dan organisasi lintas negara.

Penyelenggara menilai media memiliki peran strategis dalam membentuk persepsi publik dan mendorong terciptanya perdamaian melalui praktik jurnalistik yang bertanggung jawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *