MAJALENGKA — Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025, harga sejumlah komoditas pangan di Pasar Kadipaten, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, mulai mengalami kenaikan, Senin (15/12/2025).
Kenaikan harga terjadi pada berbagai jenis sayuran, seperti cabai rawit merah, cabai rawit hijau, kentang, wortel, hingga kemiri. Kondisi ini mulai dirasakan pedagang maupun pembeli dalam beberapa pekan terakhir.
Salah seorang pedagang sayur, Ajang Sutisna, mengatakan harga cabai rawit merah melonjak tajam dari sebelumnya Rp40 ribu menjadi Rp100 ribu per kilogram. Sementara cabai rawit hijau naik dari Rp30 ribu menjadi Rp60 ribu per kilogram.
“Harga kentang juga naik dari Rp8 ribu menjadi Rp10 ribu per kilogram. Wortel dari Rp16 ribu menjadi Rp24 ribu per kilogram, sedangkan kemiri naik cukup signifikan dari Rp30 ribu menjadi Rp60 ribu per kilogram,” ujar Ajang.
Selain meningkatnya permintaan menjelang Nataru, kenaikan harga juga dipicu tingginya curah hujan yang berdampak pada gangguan distribusi dan pasokan dari sejumlah daerah sentra produksi. Kondisi tersebut menyebabkan stok di tingkat pedagang menipis sehingga harga melonjak.
Dampak kenaikan harga ini turut dirasakan pedagang. Sejumlah pedagang mengaku omzet penjualan turun hingga 40 persen karena daya beli masyarakat melemah.
Sementara itu, harga telur ayam dan daging ayam ras hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda penurunan. Harga telur ayam masih bertahan di kisaran Rp32 ribu per kilogram, dari harga normal sekitar Rp27 ribu per kilogram. Adapun harga daging ayam ras mencapai Rp44 ribu per kilogram, naik dari harga normal Rp38 ribu per kilogram.
Pedagang daging ayam, Ika, mengatakan kenaikan harga sudah terjadi sejak Oktober 2025. Kondisi tersebut membuat aktivitas jual beli menurun dan sejumlah lapak daging ayam di Pasar Kadipaten terlihat kosong.
“Kenaikan harga sudah cukup lama. Sekarang pembeli berkurang dan banyak pedagang yang memilih tidak berjualan,” ujarnya.
Para pedagang berharap pemerintah daerah bersama Satgas Pangan segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga agar tidak terus memberatkan masyarakat menjelang Nataru.












