Scroll untuk baca artikel

Tabligh Akbar 2026

HUT ke-23 Tanah Bumbu

Lihat Info
Nasional

Suhu Panas Landa Sejumlah Wilayah Indonesia, BMKG Ungkap Penyebab dan Potensinya ke Depan

×

Suhu Panas Landa Sejumlah Wilayah Indonesia, BMKG Ungkap Penyebab dan Potensinya ke Depan

Sebarkan artikel ini
Cuaca terik melanda wilayah Indonesia dengan suhu mencapai 37°C akibat gerak semu matahari dan pengaruh Monsun Australia. (Foto: Dok. BMKG)
Cuaca terik melanda wilayah Indonesia dengan suhu mencapai 37°C akibat gerak semu matahari dan pengaruh Monsun Australia. (Foto: Dok. BMKG)

JAKARTA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan cuaca panas ekstrem dengan suhu maksimum mencapai 37,6°C tengah melanda sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa hari terakhir. Fenomena ini dipicu oleh kombinasi gerak semu matahari dan pengaruh Monsun Australia, yang diperkirakan masih akan berlangsung hingga akhir Oktober atau awal November 2025.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto menjelaskan, posisi gerak semu matahari yang pada Oktober berada di selatan ekuator menjadi faktor utama meningkatnya suhu udara di Indonesia. Selain itu, penguatan angin timuran atau Monsun Australia membawa massa udara kering dan hangat yang menghambat pembentukan awan. Akibatnya, radiasi matahari langsung mencapai permukaan bumi secara maksimal.

“Wilayah Indonesia bagian tengah dan selatan seperti Jawa, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Papua menerima penyinaran matahari yang lebih intens sehingga cuaca terasa lebih panas,” kata Guswanto dalam keterangan resmi, Rabu (15/10/2025).

Sementara itu, Direktur Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani menuturkan, suhu udara maksimum di atas 35°C terpantau luas di berbagai daerah. Wilayah yang terdampak antara lain sebagian besar Nusa Tenggara, Jawa bagian barat hingga timur, Kalimantan barat dan tengah, Sulawesi selatan dan tenggara, serta Papua.

Pada 12 Oktober 2025, suhu tertinggi tercatat mencapai 36,8°C di Kapuas Hulu (Kalimantan Barat), Kupang (NTT), dan Majalengka (Jawa Barat). Sehari kemudian, suhu sedikit menurun menjadi 36,6°C di Sabu Barat (NTT), namun kembali meningkat hingga 37,6°C di Majalengka dan Boven Digoel (Papua) pada 14 Oktober 2025.

“Konsistensi tingginya suhu maksimum di banyak wilayah menunjukkan kondisi cuaca panas yang persisten, didukung oleh dominasi massa udara kering dan minimnya tutupan awan,” jelas Andri.

Meski demikian, BMKG mencatat potensi hujan lokal akibat aktivitas konvektif masih mungkin terjadi pada sore hingga malam hari di beberapa wilayah Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Papua.

Baca Juga  Pj Bupati Bartim Pimpin Apel HAB ke-78 Kementerian Agama

Guswanto mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan dan mencukupi kebutuhan cairan, serta menghindari paparan sinar matahari langsung dalam waktu lama, terutama pada siang hari.

“Waspadai pula potensi perubahan cuaca mendadak seperti hujan disertai petir dan angin kencang pada sore atau malam hari,” ujarnya.

BMKG meminta masyarakat terus memantau informasi cuaca terkini dan peringatan dini melalui situs resmi bmkg.go.id, akun media sosial resmi BMKG, atau aplikasi Info BMKG guna mengantisipasi dampak cuaca terhadap aktivitas sehari-hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *