Scroll untuk baca artikel

Tabligh Akbar 2026

HUT ke-23 Tanah Bumbu

Lihat Info
Jakarta

SMSI Jadi Gerakan Kolektif Menjaga Marwah Pers Digital

×

SMSI Jadi Gerakan Kolektif Menjaga Marwah Pers Digital

Sebarkan artikel ini
Ketua Dewan Pembina SMSI, Prof. Dr. Harris Arthur Hedar, membuka Dialog Nasional bertema “Media Baru: Peluang dan Tantangannya” di Kantor SMSI Pusat, Jakarta. (Foto: Dok. SMSI)
Ketua Dewan Pembina SMSI, Prof. Dr. Harris Arthur Hedar, membuka Dialog Nasional bertema “Media Baru: Peluang dan Tantangannya” di Kantor SMSI Pusat, Jakarta. (Foto: Dok. SMSI)

JAKARTA — Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) kini tak hanya menjadi wadah organisasi media, tetapi juga tampil sebagai gerakan kolektif untuk menjaga marwah pers nasional di era digital.

Hal tersebut ditegaskan Prof. Dr. Harris Arthur Hedar, S.H., M.H., Guru Besar Bidang Hukum Kebijakan Publik sekaligus Ketua Dewan Pembina SMSI, dalam sambutannya saat membuka Dialog Nasional bertema “Media Baru: Peluang dan Tantangannya” di Kantor SMSI Pusat, Jalan Veteran, Jakarta, Selasa (7/10/2025). Kegiatan ini juga disiarkan secara daring melalui aplikasi Zoom.

“Kita ingin memastikan transformasi media digital tetap berpegang pada etika, akurasi, dan keberpihakan terhadap kebenaran serta kepentingan publik,” ujar Harris Arthur Hedar.

Dialog nasional tersebut menghadirkan sejumlah pembicara penting, di antaranya Ketua Umum SMSI Firdaus, Ketua Dewan Pakar Prof. Yuddy Chrisnandi, Wakil Ketua Dewan Pers Totok Suryanto, serta tokoh pers dan akademisi seperti Dr. Abraham Samad, Prof. Henry Subiakto, Hersubeno Arif, dan Ilona Juwita.

Dalam paparannya, Prof. Harris menekankan empat langkah strategis yang harus terus diperjuangkan SMSI. Pertama, memperkuat literasi digital bagi masyarakat dan ekosistem media. Kedua, memperjuangkan perlindungan hukum bagi jurnalis dan perusahaan media siber. Ketiga, meningkatkan kompetensi teknologi dan bisnis media. Dan keempat, membangun sinergi dengan pemerintah, Dewan Pers, serta seluruh pemangku kepentingan.

“Saya berharap forum ini dapat melahirkan pemikiran tajam dan rekomendasi konkret, baik bagi SMSI maupun ekosistem media digital Indonesia,” tuturnya.

Ia juga menyoroti tantangan besar yang kini dihadapi dunia media, mulai dari derasnya arus konten pengguna (user-generated content), algoritma platform global, hingga persoalan etika dan hukum. “Media siber harus tetap menjadi watchdog demokrasi, tapi juga adaptif terhadap perkembangan industri,” tegasnya.

Baca Juga  TNI Tetapkan 4 Tersangka Kasus Penganiayaan Aktivis KontraS AY

Harris menegaskan, SMSI harus menjadi “rumah besar” bagi media siber yang kredibel, berdaya, dan berpihak pada kepentingan bangsa. “Mari jadikan forum ini pijakan untuk memperkuat kualitas media siber Indonesia agar tetap tangguh, adaptif, dan tidak kehilangan jati diri,” ujarnya menutup.

Fenomena media baru, lanjutnya, memang menghadirkan dua sisi. Di satu sisi, peluang besar untuk memperluas jangkauan dan mempercepat distribusi informasi. Namun di sisi lain, muncul tantangan serius seperti disinformasi, hoaks, polarisasi opini, hingga tekanan bisnis media yang terus berubah.

“Dialog nasional ini menjadi momentum penting bagi SMSI untuk memperkuat kapasitas strategis media siber Indonesia agar tetap independen, profesional, dan berdaya saing tinggi di tengah derasnya arus digital global,” tandas Harris Arthur Hedar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *