Scroll untuk baca artikel

Tabligh Akbar 2026

HUT ke-23 Tanah Bumbu

Lihat Info
Dunia–Internasional

HWPL Gelar Lokakarya Jurnalisme Perdamaian, Bahas Peran AI dan Budaya

×

HWPL Gelar Lokakarya Jurnalisme Perdamaian, Bahas Peran AI dan Budaya

Sebarkan artikel ini
Peserta Lokakarya HWPL membahas integrasi AI dan jurnalisme perdamaian. (Foto Tangkapan layar)

Heavenly Culture, World Peace, Restoration of Light (HWPL) menyelenggarakan Lokakarya Internasional Studi Jurnalisme Perdamaian secara daring pada Kamis, (17/4/2025). Acara ini menghadirkan 200 peserta dari 50 negara, termasuk Indonesia, yang terdiri dari jurnalis, akademisi, dan praktisi perdamaian. Mereka membahas peran jurnalisme dalam mengatasi misinformasi dan konflik di era digital.

Tema utama lokakarya adalah “Transformasi Konflik melalui AI dan Pemahaman Budaya”. Diskusi berfokus pada dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap jurnalisme, serta bagaimana jurnalis dapat memanfaatkan teknologi ini secara bertanggung jawab tanpa mengorbankan akurasi, keadilan, dan empati.

Publikasi Terbaru Jadi Sorotan
Acara ini juga mengulas Studi Jurnalisme Perdamaian (2024), sebuah jurnal yang mengeksplorasi potensi jurnalisme untuk mendorong rekonsiliasi dan pemahaman lintas budaya. Studi kasus dalam jurnal menunjukkan bagaimana pelaporan konstruktif dapat membantu mengurangi kesenjangan dan mendukung perdamaian jangka panjang.

Mr. Berry Lwando (Direktur Jenderal Zambia National Broadcasting Corporation) mengatakan, “Jurnalisme perdamaian bukan tentang menghindari konflik, tapi membingkainya agar mendorong dialog, bukan perpecahan.”

Hon. Noel Lipipa (Anggota Parlemen Malawi) menyatakan, “Saya terinspirasi oleh upaya menggabungkan AI dan budaya untuk menyelesaikan konflik. Dunia butuh lebih banyak pendongeng perdamaian.”

Mr. Garfield Burford (Direktur Berita Radio TV ABS, Antigua dan Barbuda) memperingatkan, “AI bisa mempercepat jurnalisme, tetapi akurasi dan etika tetap kunci utama.”

Peran Media dalam Perdamaian
Mr. Sijam Sinjali (CEO Agleshwori Hills Development Trust, Nepal) menekankan jurnalisme perdamaian sebagai alat resolusi konflik tanpa kekerasan.

Dr. Musa Damao (Direktur Eksekutif Bangsamoro Dialogue for Peace and Justice, Filipina) menyoroti pentingnya pendidikan perdamaian dalam kurikulum sekolah.

Mr. Josef Mühlbauer (CEO Varna Institute for Peace Research, Austria) mengangkat peran dialog terbuka dalam melawan narasi berbahaya.

Baca Juga  DPCW: 10 Tahun Upaya Membangun Standar Internasional Pencegahan Perang

Tuty Purwaningsih (Direktur Media Desa, Indonesia) menekankan peran media dalam memperkuat nilai toleransi dan empati.

Dukungan untuk DPCW
Lokakarya ini sejalan dengan Deklarasi Perdamaian dan Penghentian Perang (DPCW) HWPL, khususnya Pasal 10 tentang penyebaran budaya perdamaian melalui media.

Acara ditutup dengan seruan kolaborasi antara jurnalis, akademisi, dan aktivis perdamaian untuk mempromosikan jurnalisme etis di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *