MALANG – Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU Kabupaten Malang memasuki usia ke-97 tahun. Di tengah perjalanan menuju satu abad, lembaga pendidikan di bawah NU itu kembali menegaskan perannya dalam memperjuangkan pendidikan, terutama bagi masyarakat di wilayah pinggiran.
Ketua LP Ma’arif PCNU Kabupaten Malang, Prof Abdul Malik KA mengatakan, perjalanan Ma’arif telah berlangsung sejak sebelum Indonesia merdeka. Hingga kini, dua hal tetap menjadi perhatian, yakni menjaga nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) dan memberikan perhatian kepada masyarakat di wilayah pinggiran.
“Ma’arif itu mulai sebelum sejarah berdirinya Indonesia, sampai perjuangan hingga hari ini tetap tegak. Kita konsisten memperjuangkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah dan masyarakat pinggiran,” ujar Abdul Malik.
Menurutnya, banyak lembaga pendidikan Ma’arif tumbuh di pelosok desa. Kondisi tersebut membuat keberadaan Ma’arif selama ini banyak ditopang gotong royong masyarakat, bukan semata dukungan finansial.
Dukungan itu terlihat dalam berbagai kegiatan Ma’arif Day. Masyarakat ikut menyumbangkan makanan, hadiah hingga kebutuhan kegiatan lainnya.
“Dari Poncokusumo ada yang menyumbang doorprize, polo pendem, makanan dan lainnya. Semuanya dari masyarakat. Memang seperti itu jiwanya Ma’arif, jiwa sosial masyarakat,” katanya.
Antusiasme masyarakat terhadap kegiatan Ma’arif juga meningkat. Peserta berbagai perlombaan dalam Ma’arif Day yang tahun sebelumnya sekitar 500 orang, tahun ini mencapai sekitar 2.500 peserta.
Hal serupa terlihat pada kegiatan jalan sehat. Jumlah peserta meningkat dari sekitar 15 ribu orang pada tahun sebelumnya menjadi sekitar 25 ribu orang tahun ini.
“Semakin besar. Artinya mereka haus dengan keberadaan Ma’arif ini,” tutur Abdul Malik.
Miliki 580 Lembaga
LP Ma’arif NU Kabupaten Malang saat ini mencatat sekitar 580 lembaga pendidikan dalam database. Jumlah tersebut mencakup madrasah dan sekolah yang berada di bawah Kementerian Agama maupun Dinas Pendidikan.
Dari jumlah tersebut, sekitar 200 lembaga secara langsung berafiliasi dan menjadi bagian dari LP Ma’arif NU. Meski demikian, lembaga lainnya tetap menunjukkan antusiasme dalam mendukung kegiatan Ma’arif.
Abdul Malik mengatakan, Ma’arif selama ini lebih banyak mengandalkan kemandirian. Pondok pesantren dan lembaga pendidikan dibangun melalui kekuatan internal serta dukungan masyarakat.
“Ma’arif itu bukan lumbungnya duit. Ma’arif itu lumbungnya perjuangan,” tegasnya.
Untuk membangun kembali kepercayaan masyarakat, Abdul Malik mengaku aktif mendatangi berbagai wilayah di Kabupaten Malang. Ia bahkan menyebut hampir setiap hari berkeliling ke sejumlah kecamatan.
Pendidikan Bukan Sekadar Sekolah
Abdul Malik juga menilai pendidikan tidak bisa hanya dipahami sebagai kegiatan di sekolah atau pesantren.
Menurutnya, pendidikan merupakan proses membentuk manusia secara utuh yang melibatkan keluarga, masyarakat, orang tua, guru, serta lingkungan sekitar.
“Pendidikan itu bukan sekolah. Pendidikan itu bukan pesantren. Pendidikan adalah proses untuk membangun manusia yang seutuhnya, yang baik,” jelasnya.
Ia menempatkan keluarga sebagai bagian awal dari proses pendidikan sebelum kemudian berkembang melalui masyarakat dan sekolah.
“Yang penting bagaimana caranya manusia ini menjadi baik. Itu yang selama ini dilupakan,” katanya.
Pesan untuk Guru Ma’arif
Pada momentum Harlah ke-97, Abdul Malik juga meminta para guru Ma’arif menjalankan profesinya dengan hati dan menemukan kebahagiaan dalam bekerja.
Menurutnya, rasa bahagia akan membuat guru bekerja secara total. Dari totalitas itu, seorang guru dapat berkembang menjadi ahli di bidangnya.
“Bekerjalah dengan senang, bahagia dengan jiwa. Kalau mereka happy, mereka akan total. Kalau total, mereka akan expert. Mereka menjadi ahli,” ujarnya.












