Scroll untuk baca artikel

Tabligh Akbar 2026

HUT ke-23 Tanah Bumbu

Lihat Info
Nasional

9.700 Siswa Mulai Masuk Sekolah Rakyat, Pemerintah Fokus pada Anak Miskin Ekstrem

×

9.700 Siswa Mulai Masuk Sekolah Rakyat, Pemerintah Fokus pada Anak Miskin Ekstrem

Sebarkan artikel ini
Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) memberikan keterangan pers terkait peluncuran Sekolah Rakyat tahun ajaran 2025/2026 di kantor Kemensos, Selasa (14/7/2025). (Foto: Istimewa/Kemensos)
Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) memberikan keterangan pers terkait peluncuran Sekolah Rakyat tahun ajaran 2025/2026 di kantor Kemensos, Selasa (14/7/2025). (Foto: Istimewa/Kemensos)

Jakarta, bacakabar – Pemerintah resmi memulai operasional Sekolah Rakyat tahun ajaran 2025/2026 pada Senin (14/7/2025). Sebanyak 9.700 lebih siswa dari kelompok miskin dan miskin ekstrem mulai mengikuti pendidikan di sekolah khusus yang tersebar di 63 titik wilayah.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menjelaskan, Sekolah Rakyat menjadi bentuk afirmasi negara bagi anak-anak dari keluarga tidak mampu tanpa seleksi akademik ketat.

“Sekolah Rakyat tidak menggunakan tes akademik. Yang penting mereka berasal dari desil satu, artinya kelompok paling miskin secara ekonomi,” ujar Gus Ipul di Jakarta, Selasa (20/5/2025).

Kementerian Sosial (Kemensos) menyaring calon siswa berdasarkan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), lalu menindaklanjutinya dengan survei lapangan langsung.

Selain 63 titik yang mulai berjalan hari ini, pemerintah juga tengah menyiapkan 37 titik tambahan. Menurut rencana, titik-titik baru ini akan diuji coba dalam beberapa minggu ke depan dan akan diluncurkan langsung oleh Presiden Prabowo bulan depan.

Ketua Tim Formatur Sekolah Rakyat, Prof. Mohammad Nuh, menegaskan bahwa meskipun tanpa tes masuk, Sekolah Rakyat tetap menerapkan pemetaan akademik di awal pembelajaran.

“Berapa pun nilainya, jika anak tersebut berasal dari keluarga desil satu, tetap kami terima. Tapi kami perlu tahu posisi akademik, kesehatan fisik, dan kondisi psikologisnya sejak awal,” kata Nuh.

Ia menambahkan, pemetaan awal ini menjadi dasar untuk melihat perkembangan anak setelah mengikuti program. Bahkan jika ditemukan penyakit atau gangguan psikologis, anak tetap bersekolah sambil mendapat penanganan.

“Kita tidak menolak. Justru kita bantu. Tujuannya bukan hanya mendidik, tapi mengangkat harkat anak-anak miskin melalui pendidikan dan perhatian menyeluruh,” ungkap Nuh.

Baca Juga  Pemerintah Tetapkan Lebaran 2026 Jatuh pada 21 Maret, Ini Hasil Sidang Isbat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *