LABUAN BAJO – Warga dan wisatawan di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), sempat panik setelah gempa kuat mengguncang wilayah Flores, Sabtu (15/8/2026) pagi.
Seorang warga Labuan Bajo, Yasin (63), mengatakan sejumlah wisatawan keluar dari hotel setelah merasakan guncangan. Warga juga melihat perubahan muka air laut di kawasan pesisir.
“Saya di dermaga dekat Kantor Syahbandar, Hotel Meurorah. Saya lihat turis-turis, bule-bule sudah mulai panik, kebingungan. Informasi dari teman-teman di hotel-hotel juga tamu berhamburan keluar,” kata Yasin, Sabtu (15/8/2026).
Yasin mengaku merasakan guncangan ketika berada di sebuah rumah panggung di kawasan Kampung Air, belakang Kantor KSOP Kelas III Labuan Bajo.
“Tadi saya di rumah panggung kecil milik teman di Kampung Air, belakang Kantor KSOP Kelas III Labuan Bajo. Lagi ngopi, terasa goyangnya kencang sekali beberapa menit, tak lama berhenti. Lalu ada susulan lagi,” ujarnya.
Setelah gempa, aliran listrik di wilayah tersebut dilaporkan padam. Yasin juga menyebut koneksi internet menjadi tidak stabil.
“Saat ini jaringan internet tidak stabil, lelet. Listrik di sini mati sekarang,” katanya.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa utama berkekuatan M7,7 mengguncang wilayah Flores pada pukul 04.58 WIB. Gempa tersebut memicu peringatan dini tsunami.
BMKG mencatat gelombang tsunami mencapai sejumlah wilayah pesisir, termasuk Labuan Bajo dengan ketinggian 0,36 meter pada pukul 05.26 WIB. Peringatan dini tsunami kemudian diakhiri BMKG pada pukul 07.30 WIB.
BMKG menyatakan pemantauan tetap dilakukan karena gempa susulan masih terjadi. Hingga pukul 14.00 WIB, BMKG mencatat 235 aktivitas gempa susulan dengan magnitudo berkisar M2,5 hingga M6,2.
Sumber data gempa dan tsunami: BMKG.












