Bacakabar – Ribuan jemaah haji dari berbagai negara memenuhi Padang Arafah pada Kamis (5/6/2025), bertepatan dengan 9 Dzulhijjah 1446 H, untuk menjalani wukuf. Sebelum menuju Arafah, banyak jemaah lebih dulu bertawaf mengelilingi Ka’bah di Masjidil Haram.
Umat Islam menjadikan Hari Arafah sebagai hari paling suci dalam kalender hijriah. Muslim yang tidak berhaji juga berpuasa Arafah untuk menghapus dosa setahun yang lalu dan satu tahun berikutnya.
Perempuan Makkah menyambut Hari Arafah dengan tradisi Yaumul Khulaif, yang berarti “hari ketika kota kosong”. Saat para pria dan jemaah bergerak menuju Arafah dan Mina, para perempuan justru berkumpul di Masjidil Haram. Mereka beribadah, membaca Al-Qur’an, dan menunggu waktu berbuka puasa.
Perempuan Makkah biasanya mengajak keluarga, tetangga, dan sahabat. Mereka membawa makanan serta perlengkapan dan memilih berada di Masjidil Haram hingga matahari terbenam.
“Saya perhatikan, kini semakin banyak perempuan yang melakukan hal yang sama setiap tahun,” ujar Nedaa Zuhair, warga Jeddah yang telah menyaksikan tradisi ini sejak kecil, dikutip dari Arab News.
Sementara itu, para pria Makkah berjalan sekitar lima mil ke arah timur menuju Mina bersama jemaah. Mereka menyiapkan tenda, makanan, serta logistik lain untuk kelancaran ibadah haji.
Usai Idulfitri, para mutawefeen atau penduduk lokal yang melayani jemaah haji mulai bersiap menghadapi musim haji. Mereka menerima jemaah melalui agen resmi dan membuka rumah mereka untuk menampung tamu selama beberapa hari hingga berminggu-minggu.
“Profesi ini diwariskan dari generasi ke generasi. Bagi masyarakat Makkah, melayani jemaah merupakan kehormatan,” jelas Faten Hussein, jurnalis yang mendalami isu haji dan umrah.
Sehari sebelumnya, pada 8 Dzulhijjah, para pria Makkah memandu jemaah dari Masjidil Haram ke Mina. Di sana, jemaah melanjutkan rangkaian ibadah seperti mabit di Muzdalifah dan melempar jumrah.












