Tanah Laut, bacakabar – Hidup seorang diri di rumah reyot berukuran 4×4 meter, Aluh Saniah (50) warga Desa Pagatan Besar, Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, menjalani hari-harinya dalam keterbatasan. Rumah yang ia tempati berdinding kayu keropos, berlubang, lantai rapuh, dan atap seng bocor.
Setiap hujan, rumah Saniah kerap kebanjiran sehingga ia harus mengungsi ke rumah keponakannya yang berjarak 30 meter. Tidak ada sekat maupun perabot berharga di dalam rumah itu.
Saniah yang belum pernah menikah tidak memiliki pekerjaan tetap. Untuk kebutuhan sehari-hari, ia mengandalkan bantuan keluarga yang juga hidup pas-pasan. Meski fisiknya tidak kuat, ia masih bersedia membantu pekerjaan ringan jika diminta.
Kondisi ini mengundang perhatian Marliana, Wakil Bendahara II Pengurus Pusat Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) sekaligus pegawai Kementerian Agama Tala. Marliana mengunjungi Saniah dan memberikan bantuan sembako, sekaligus berjanji mengupayakan program perbaikan atau bedah rumah agar layak huni.
“Kami berharap ada perhatian dari pihak pemerintah atau para dermawan, sehingga Ibu Saniah bisa tinggal di rumah yang layak tanpa khawatir kehujanan,” ujar Marliana.
Saniah pun berharap bantuan segera terealisasi, agar ia dapat hidup lebih aman, sehat, dan sejahtera di usia senjanya.












