Malang

Restoran Lawas Malang Tutup, PHRI Sebut Regenerasi dan Adaptasi Jadi Tantangan

×

Restoran Lawas Malang Tutup, PHRI Sebut Regenerasi dan Adaptasi Jadi Tantangan

Sebarkan artikel ini

MALANG — Sejumlah rumah makan dan restoran lawas di Kota Malang berhenti beroperasi. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang, Agoes Basoeki, menyebut regenerasi usaha, perubahan selera konsumen, dan kemampuan beradaptasi menjadi sejumlah tantangan yang dihadapi pelaku usaha kuliner.

Menurut Agoes, persoalan restoran yang tutup tidak selalu berkaitan dengan kondisi ekonomi. Sebagian usaha keluarga berhenti karena tidak ada generasi penerus yang bersedia melanjutkan bisnis.

“Generasi penerusnya tidak mau melanjutkan. Akhirnya beralih ke bisnis lain atau memilih berhenti,” ujar Agoes, Senin (12/10/2026).

Selain regenerasi, kemampuan mengikuti perkembangan teknologi dan manajemen usaha juga memengaruhi keberlangsungan bisnis kuliner. Pengusaha dituntut menyesuaikan cara pemasaran, pelayanan, hingga pengelolaan biaya operasional.

“Dalam dunia bisnis sekarang, khususnya akomodasi dan kuliner, memang harus beradaptasi dengan teknologi,” tegasnya.

Perubahan pola konsumsi juga membuat restoran lama menghadapi persaingan dari kafe dengan konsep yang lebih menarik bagi anak muda dan mahasiswa. Selain menu, suasana tempat kini menjadi salah satu pertimbangan konsumen.

Sejumlah pelaku usaha restoran mulai menyesuaikan konsep dengan membuka kafe atau menawarkan makanan cepat saji untuk menjangkau pasar tersebut.

Meski begitu, restoran lama masih memiliki peluang bertahan dengan mempertahankan menu khas dan cita rasa yang menjadi identitas usaha.

“Kalau mereka bisa mempertahankan menu-menu khas, terutama yang benar-benar menjadi ciri Kota Malang, itu masih bisa menjadi kekuatan untuk bertahan,” jelas Agoes.

Menurut dia, pembaruan konsep tidak harus menghilangkan karakter restoran. Keunikan menu dan identitas usaha justru dapat menjadi pembeda di tengah persaingan.

Di sisi pemasaran, media sosial juga menjadi sarana yang semakin penting. Agoes menyebut sejumlah kafe baru mampu menarik pelanggan melalui konten digital yang membuat masyarakat penasaran untuk berkunjung.

Baca Juga  Musrenbang RKPD 2027 Kabupaten Malang Digelar, Sanusi Tekankan Penguatan Ekonomi

Tantangan lain terdapat pada efisiensi operasional. Berbeda dengan sejumlah sektor usaha lain, makanan memiliki masa simpan terbatas sehingga produk yang tidak terjual dapat langsung menjadi kerugian.

“Bisnis kuliner itu harus laku. Kalau tidak laku, makanan bisa basi dan biaya menjadi hilang,” ungkapnya.

PHRI Kota Malang juga melakukan pendampingan kepada anggota melalui konsultasi pengelolaan usaha, kualitas produk, citra bisnis, hingga persoalan dengan pemasok. Organisasi tersebut juga membantu anggota yang menghadapi kendala regulasi dan membangun komunikasi dengan perbankan terkait peluang pembiayaan.

Agoes mengatakan keluhan mengenai kondisi usaha datang dari sektor restoran maupun perhotelan. PHRI karena itu mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pelatihan pelayanan dan fasilitasi sertifikasi kompetensi.

Di PHRI Kota Malang, sekitar 70 persen anggota bergerak di bidang hotel dan akomodasi, termasuk guest house. Sementara sekitar 30 persen lainnya berasal dari sektor restoran.

Agoes berharap pengembangan pariwisata Kota Malang berjalan seiring dengan peningkatan kualitas hotel, penginapan, dan restoran.

“Kalau restoran berjalan, vendor-vendor dan UMKM juga akan bergerak. Pemerintah juga mendapatkan manfaat dari aktivitas ekonomi tersebut,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *