BITUNG — Limbah kelapa di Kota Bitung, Sulawesi Utara, dimanfaatkan menjadi bahan kerajinan oleh kelompok penyandang disabilitas KALEB Community. Program tersebut dikembangkan melalui Pusat Ajar Disabilitas Unggul (PADU) Pertamina Patra Niaga Integrated Terminal (IT) Bitung.
Material yang digunakan antara lain kayu kelapa, batok kelapa, dan sabut kelapa. Bahan yang sebelumnya menjadi material sisa tersebut diolah menjadi berbagai produk kerajinan.
KALEB Community saat ini memanfaatkan sekitar 20 kilogram limbah kelapa setiap bulan, menyesuaikan permintaan produk. Jika berlangsung konsisten selama setahun, material yang dimanfaatkan mencapai sekitar 240 kilogram.
Kegiatan pemberdayaan tersebut juga melibatkan penyandang disabilitas, termasuk teman tuli dan penyandang disabilitas fisik.
Para anggota mendapat pelatihan melalui kegiatan Trainers of Trainer (ToT) dan praktik pembuatan kerajinan. Pembagian pekerjaan disesuaikan dengan keterampilan, minat, serta kebutuhan aksesibilitas masing-masing anggota.
Teman tuli terlibat dalam proses pembuatan kerajinan bersama fasilitator. Anggota lainnya dapat mengambil peran dalam pemasaran, komunikasi produk, maupun kegiatan usaha sesuai kemampuan masing-masing.
Area Manager Communication, Relation & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Lilik Hardiyanto mengatakan program PADU diarahkan untuk membuka kesempatan bagi penyandang disabilitas mengembangkan keterampilan dan terlibat dalam kegiatan ekonomi.
“Pemberdayaan yang berkelanjutan perlu memberikan ruang bagi setiap orang untuk mengembangkan potensi dan mengambil peran sesuai kemampuannya. Melalui PADU, Pertamina mendukung peningkatan keterampilan penyandang disabilitas sekaligus mendorong tumbuhnya kegiatan usaha yang memiliki nilai ekonomi,” ujar Lilik, Kamis (15/10/2026).
Regenerasi Local Hero Program PADU Pertamina Patra Niaga IT Bitung, Mega Yanti Makaminang, mengatakan pendampingan diberikan agar anggota kelompok dapat belajar dan mengembangkan keterampilan.
“Melalui PADU, kami ingin memastikan teman-teman penyandang disabilitas memiliki kesempatan untuk belajar, berkarya, dan mengembangkan potensi yang mereka miliki. Pemanfaatan limbah kelapa menjadi kerajinan memberi pengalaman baru bagi kelompok binaan, sekaligus membuka peluang agar hasil karya mereka semakin dikenal dan memiliki nilai ekonomi,” ujar Mega.
Selain produksi kerajinan, KALEB Community tengah menjajaki pengembangan usaha melalui konsep wisata edukatif. Konsep tersebut menggabungkan lokakarya pembuatan kerajinan, pengenalan bahasa isyarat bersama teman tuli, serta pengalaman menikmati kopi dari Cue Cafe, salah satu unit usaha kelompok tersebut.
Pengunjung juga dapat membeli produk kerajinan hasil karya anggota KALEB Community.












