BANJARMASIN – Menjelang peringatan Hari Disabilitas Internasional 2025, Alfamart kembali menegaskan dukungan terhadap tenaga kerja inklusif melalui program Alfability Menyapa. Kegiatan ini menghadirkan para pekerja disabilitas Alfamart kembali ke Sekolah Luar Biasa (SLB) tempat mereka menempuh pendidikan, untuk berbagi pengalaman dan memotivasi para siswa.
Dua di antara mereka adalah Muhammad Supian Noor, penyandang tuna daksa, dan Agus Fahrizal Padillah, penyandang tuna rungu wicara. Keduanya kini bekerja setara sebagai karyawan Alfamart tanpa diskriminasi dan kembali ke SLBN 2 Martapura untuk memberikan motivasi kepada adik kelasnya.
Human Capital Director Manager Alfamart, Tri Wasono Sunu, mengatakan bahwa program ini dirancang untuk membuka wawasan para siswa SLB bahwa dunia kerja semakin terbuka bagi penyandang disabilitas.
“Alfability Menyapa hadir di 10 kota, membawa kisah nyata para pekerja disabilitas Alfamart. Kami ingin adik-adik melihat bahwa keterbatasan tidak menutup kesempatan mereka untuk berkarier dan mandiri,” ujar Sunu, Senin (1/12/2025).
Program ini diselenggarakan di 10 kota, yaitu Cilacap, Jakarta, Jambi, Jember, Luwu, Palembang, Parung, Semarang, Banjarmasin, dan Rembang. Di Kalimantan Selatan, kegiatan dipusatkan di SLBN 2 Martapura pada 19–25 November 2025.
Sejak diluncurkan pada 2016, program Alfability bertujuan membuka peluang kerja bagi penyandang disabilitas. Hingga Oktober 2025, tercatat 1.129 karyawan disabilitas bekerja di Alfamart—822 di gerai, 289 di pusat distribusi, dan 18 di kantor pusat.
Mereka berasal dari beragam latar belakang disabilitas seperti tunagrahita, tunanetra, tunadaksa, tunarungu, dan tunawicara. Menurut Sunu, keberagaman ini menunjukkan bahwa inklusi di Alfamart bukan hanya slogan, tetapi praktik nyata yang terus dikembangkan.
Selain sesi inspirasi, Alfamart juga membagikan paket goodie bag berisi susu, biskuit, dan produk kebutuhan harian sebagai bentuk kepedulian perusahaan kepada peserta kegiatan.












