YOGYAKARTA — Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi, FISIP Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Nuha Fidaraini, mempresentasikan hasil riset tentang animasi edukasi kesehatan dalam konferensi internasional di Singapura.
Nuha menjadi presenter dalam Eleventh International Conference on Communication & Media Studies (ICCMS26) yang diselenggarakan Communication & Media Studies Research Network di Nanyang Technological University, Singapura, pada 1-2 Oktober 2026.
Dalam konferensi bertema khusus “The Image as Advocate: Shaping Cultural Conversations”, Nuha mempresentasikan makalah berjudul “The Organ as a Speaking Subject: A Multimodal and Critical Posthumanist Analysis of Animasi Dolewak” pada subtema Media Cultures.
Penelitian tersebut mengkaji konten Animasi Dolewak, akun edukasi kesehatan di Instagram dan YouTube yang menyampaikan pesan kesehatan melalui animasi dengan organ tubuh sebagai tokoh yang dapat berbicara.
Nuha mengkaji dua episode, yakni episode tentang varikokel serta episode tentang adu pengaruh rokok dan gula. Kedua episode dipilih untuk melihat dua kategori berbeda, yaitu organ di dalam tubuh dan zat yang berasal dari luar tubuh.
Pada episode varikokel, bagian tubuh pria menyampaikan kondisi yang dialaminya. Sementara pada episode rokok dan gula, kedua zat tersebut ditampilkan sebagai tokoh yang beradu argumentasi dengan organ.
Hasil kajian menunjukkan bahwa pesan kesehatan dalam animasi tersebut tidak hanya disampaikan dari sudut pandang manusia, tetapi juga melalui sudut pandang tubuh.
Menurut Nuha, animasi dapat menjadi alternatif dalam edukasi kesehatan, termasuk untuk membahas tema yang dianggap tabu seperti varikokel.
Pada episode tentang rokok dan gula, penonton diajak melihat dampak dari sisi organ sehingga informasi mengenai beban tubuh akibat asap rokok atau asupan gula berlebih disampaikan melalui karakter organ.
Model animasi tersebut, menurutnya, dapat dimanfaatkan untuk penyuluhan di puskesmas, kegiatan komunitas dan sekolah, serta kampanye di media sosial.
Presentasi Nuha juga memantik diskusi dengan peserta konferensi mengenai pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam pendidikan animasi serta implikasinya terhadap pemahaman mengenai subjek, tubuh dan kreativitas.
Diskusi turut membahas perspektif posthumanisme, khususnya mengenai bagaimana subjektivitas non-manusia dapat dibaca dalam konteks media dan budaya lokal.
Selama dua hari konferensi, peserta mengikuti sesi pleno bersama pembicara utama, presentasi paralel lintas tema, serta diskusi dengan peneliti dari berbagai negara.
Kegiatan tersebut juga membuka penjajakan kolaborasi riset dan pertukaran gagasan dengan kolega yang ditemui selama konferensi di bidang komunikasi dan media.












