GUNUNGKIDUL — Kebutuhan nangka muda atau gori untuk industri kuliner gudeg di Yogyakarta mencapai sekitar sembilan ton per hari. Namun, produksi dari wilayah DIY baru mampu memenuhi sekitar dua ton per hari.
Kondisi itu membuat sekitar tujuh ton kebutuhan nangka muda masih harus dipenuhi dari luar daerah.
Salah satu upaya memenuhi kebutuhan tersebut dikembangkan melalui kawasan Hutan Wanaboga Nangka di Petak 58 RPH Candi, BDH Karangmojo, Kalurahan Jatiayu, Kapanewon Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul.
Pertamina melalui Pertamina Foundation bersama Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) DIY menggelar panen raya sekaligus penanaman lanjutan pohon nangka di kawasan tersebut, Sabtu (3/10).
Kawasan yang dikembangkan memiliki luas 87 hektare dan dikelola bersama Kelompok Tani Hutan Lestari Wanaboga Nangka yang beranggotakan sekitar 400 petani lokal.
Komisaris PT Pertamina (Persero) Nanik S. Deyang mengatakan pengembangan kawasan tersebut berkaitan dengan kebutuhan bahan baku gudeg yang selama ini masih didatangkan dari luar daerah.
“Yogyakarta ini identik dengan gudeg, namun selama ini belum memiliki sumber bahan baku mandiri sehingga harus mendatangkan dari luar daerah. Pemanfaatan lahan di Gunungkidul ini adalah bagian nyata dari program ketahanan pangan,” ujar Nanik saat kegiatan panen dan penanaman pohon nangka bersama warga.
Perwakilan Kelompok Tani Hutan Lestari Wanaboga Nangka, Ngatimin, mengatakan kelompok tani telah melakukan sedikitnya tiga kali panen.
Ia berharap pendampingan peningkatan kapasitas petani tetap berlanjut sehingga hasil kebun dapat dikembangkan menjadi produk turunan.
Selain tanaman nangka, pengembangan kawasan dilakukan dengan sistem tumpangsari. Program tersebut juga dilengkapi pengairan berbasis energi bersih untuk mendukung pertanian di lahan karst Gunungkidul yang cenderung kering saat musim kemarau.
Dalam kegiatan tersebut, Pertamina Foundation menyerahkan dua unit kendaraan angkut roda tiga untuk membantu mobilitas hasil panen kelompok tani.
Sebanyak 20 paket bantuan pendidikan SESAMA berupa tas dan alat tulis juga diserahkan kepada anak-anak di sekitar kawasan hutan.
Kegiatan panen dilanjutkan dengan tradisi Kembul Bujono, berupa makan bersama dengan olahan nangka yang dibuat masyarakat lokal, serta pertunjukan musik tradisional Rinding Gumbeng khas Gunungkidul.












