Palangka Raya

MT Elisabet Tenggelam di Laut Jawa, 9 ABK Selamat dan 5 Dinyatakan Hilang

×

MT Elisabet Tenggelam di Laut Jawa, 9 ABK Selamat dan 5 Dinyatakan Hilang

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi kapal tanker berlayar di laut. MT Elisabet tenggelam di perairan Laut Jawa pada 21 Agustus 2026, sembilan ABK selamat dan lima lainnya dinyatakan hilang. (Foto Istimewa)

PALANGKA RAYA – Kapal tanker MT Elisabet tenggelam di perairan Laut Jawa, wilayah Kalimantan Tengah, pada 21 Agustus 2026. Dari 14 anak buah kapal (ABK) yang berada di atas kapal, sembilan orang berhasil dievakuasi dalam keadaan selamat, sementara lima lainnya dinyatakan hilang setelah operasi pencarian dan pertolongan ditutup pada 28 Agustus 2026.

Informasi mengenai tenggelamnya kapal tanker milik PT Arta Samudra Line tersebut baru terungkap ke publik pekan ini. Kapal dilaporkan mengalami kebocoran saat berlayar menuju wilayah Kalimantan Tengah.

Kapten MT Elisabet, Sadili, dalam konferensi pers melalui Zoom pada 26 Agustus 2026, mengatakan kapal masih dalam kondisi aman hingga 19 Agustus. Sehari kemudian, kapal mulai menghadapi gelombang besar saat memasuki perairan Kalimantan, meski masih dapat dikendalikan.

Situasi berubah pada 21 Agustus sore. MT Elisabet sempat bertemu kapal kargo yang menuju Sampit dan menerima informasi mengenai kondisi gelombang tinggi di perairan tersebut.

Tak lama kemudian, kapal mulai oleng akibat hantaman gelombang. Kru membuka manhole dan menemukan air terus menggenangi bagian dalam kapal. Mereka kemudian mengoperasikan pompa, namun debit air yang masuk semakin meningkat.

Pada malam hari, kondisi kapal semakin memburuk. MT Elisabet mulai miring ke kanan sehingga Kapten Sadili memerintahkan seluruh ABK mengenakan life jacket dan berkumpul di master station.

Sadili kemudian memancarkan sinyal darurat Mayday kepada kapal-kapal yang berada di sekitar lokasi.

Berdasarkan laporan MT Alyssia Claretta yang merespons panggilan tersebut, MT Elisabet memancarkan sinyal Mayday pada pukul 22.15 waktu setempat melalui radio VHF kanal 16 dari posisi 04°14.700′ Lintang Selatan dan 113°44.300′ Bujur Timur di Laut Jawa.

Saat menerima panggilan darurat, MT Alyssia Claretta berada sekitar 1,7 mil laut dari lokasi dan tengah berlayar dari Balikpapan menuju Pontianak.

Baca Juga  Pemkab Sukamara Alokasikan Rp3,2 Miliar untuk Lanjutan Jalan Karya Mulya

Nakhoda MT Alyssia Claretta kemudian mengubah haluan menuju lokasi. Komunikasi dengan MT Elisabet terputus pada pukul 22.30, namun kapal tersebut tetap melanjutkan pelayaran ke titik koordinat terakhir dan tiba sekitar 15 menit kemudian.

Menurut Sadili, seluruh 14 ABK akhirnya meninggalkan kapal setelah liferaft dilepas. Gelombang besar yang terjadi saat itu membuat para kru terpisah di tengah laut.

Sadili menjadi orang terakhir yang meninggalkan kapal. Sebelum turun, ia memerintahkan Kepala Kamar Mesin (KKM) melakukan quick closing valve untuk menutup aliran bahan bakar.

MT Alyssia Claretta mulai menemukan ABK pada dini hari, 22 Agustus 2026. Perwira Kedua menjadi kru pertama yang ditemukan dan dievakuasi. Tim kemudian menemukan Sadili bersama seorang juru mudi, disusul KKM, Masinis I, dan Perwira Satu atau Chief Officer.

Hingga pukul 01.20, sembilan ABK berhasil dievakuasi ke atas MT Alyssia Claretta.

Kapal tersebut melanjutkan pencarian hingga sekitar pukul 01.30. Setelah itu, pencarian dilanjutkan oleh MV Intan Daya 228 yang tiba di lokasi. MT Alyssia Claretta kemudian meneruskan pelayaran menuju Pontianak dengan membawa sembilan ABK yang selamat.

Salah seorang Perwira Kedua yang berhasil diselamatkan juga menceritakan kondisi para kru saat berada di laut. Ia mengatakan sebagian kru sempat terpapar minyak bahan bakar kapal dan mengalami muntah sebelum dievakuasi.

Kepala Seksi Operasi Kantor Pencarian dan Pertolongan Palangkaraya, Maulana Abdillah, mengatakan operasi SAR terhadap lima ABK yang belum ditemukan berlangsung selama tujuh hari, mulai 22 hingga 28 Agustus 2026.

Tim SAR gabungan pada hari pertama memusatkan pencarian di sekitar lokasi kejadian. Memasuki hari kedua hingga keempat, tim memperluas area pencarian mengikuti perkiraan arah pergerakan arus menuju Kuala Pembuang dan perairan Sampit.

Baca Juga  Wabup Sukamara Dukung Lapas Kelas III Kembangkan Penanaman Kelapa Serentak

Tim juga melakukan pencarian melalui jalur laut menggunakan Rigid Buoyancy Boat dari Dermaga Pos TNI AL Samuda menuju Kuala Pembuang. Tim lainnya menyisir kawasan daratan dari Ujung Pandaran hingga sejumlah muara di sekitar Sampit serta berkoordinasi dengan nelayan setempat.

Pencarian berlanjut di wilayah Samuda dan Kuala Pembuang pada hari kelima dan keenam. Namun, hingga operasi berakhir, lima ABK belum ditemukan.

Dalam dokumen telegram Kantor SAR Palangkaraya bernomor 427/SAR-205/0826, lima ABK yang dinyatakan hilang masing-masing Hendra (24), juru minyak; M. Rizki (21), juru minyak; Erizal (73), juru masak; M. David Perdana (23), juru mudi; dan Moch Farrel Firdansyah (23), Masinis III.

Sebelum operasi SAR ditutup, MV Intan Daya 228 dan TB Kaltim Dolphin turut melakukan pencarian di sekitar koordinat 04°14,7′ Lintang Selatan dan 113°44,3′ Bujur Timur.

Dalam konferensi pers pada 26 Agustus, Sadili mengaku belum mengetahui penyebab teknis kebocoran yang dialami MT Elisabet. Ia mengatakan keputusan memancarkan sinyal Mayday diambil setelah melihat kondisi kapal tidak lagi memungkinkan untuk diselamatkan.

Sementara itu, perwakilan PT Arta Samudra Line, Budi, mengatakan perusahaan telah berkoordinasi dengan Basarnas, TNI Angkatan Laut, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), serta Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP) sejak awal kejadian.

Ia juga membantah adanya keterlambatan dalam proses pencarian korban meski konferensi pers baru digelar lebih dari sepekan setelah insiden tersebut.

Basarnas menyatakan persoalan pidana maupun perdata terkait insiden tersebut bukan menjadi kewenangan lembaganya. Basarnas menjalankan operasi berdasarkan laporan awal yang diterima, menyampaikan informasi kepada kapal-kapal di sekitar lokasi, serta mengerahkan operasi pencarian sesuai prosedur.

Operasi SAR resmi ditutup pada 28 Agustus 2026 dengan sembilan ABK berhasil diselamatkan dan lima lainnya dinyatakan hilang. Hingga kini, penyebab pasti kebocoran yang menyebabkan MT Elisabet tenggelam belum diketahui.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *