Scroll untuk baca artikel

Tabligh Akbar 2026

HUT ke-23 Tanah Bumbu

Lihat Info
Yogyakarta

Diskusi Pancasila di UGM Ricuh, Mahasiswa Bawa Spanduk “UGM Menolak Penjilat Rezim”

×

Diskusi Pancasila di UGM Ricuh, Mahasiswa Bawa Spanduk “UGM Menolak Penjilat Rezim”

Sebarkan artikel ini
Ricuh diskusi Pancasila di UGM.
Suasana ricuh saat diskusi Pancasila di GIK UGM. Mahasiswa naik ke panggung dan membentangkan spanduk bernada kecaman, Senin (15/6/2026). Foto: Inilahjogja.

YOGYAKARTA – Diskusi bertajuk “Pancasila Pemersatu Bangsa Indonesia” di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Senin malam (15/6/2026), berakhir ricuh.

Tiga pejabat hadir sebagai narasumber: Menteri ATR/Kepala BPN Nusron Wahid, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, dan Kepala BP Taskin RI Budiman Sudjatmiko. Acara terhenti akibat aksi protes mahasiswa.

Mahasiswa menolak kehadiran ketiganya. Mereka menilai para pejabat itu tidak layak bicara soal Pancasila di tengah kondisi bangsa yang dinilai semakin menjauh dari nilai-nilai perjuangan rakyat.

Diskusi awalnya berjalan lancar. Masing-masing narasumber diberi kesempatan memaparkan materi. Ketegangan muncul saat Budiman Sudjatmiko berbicara. Ia sempat menantang mahasiswa menyampaikan kritik langsung di forum, bukan cuma di media sosial.

Situasi berubah panas saat puluhan mahasiswa tiba-tiba merangsek naik ke panggung. Mereka membentangkan spanduk bernada kecaman, antara lain bertuliskan “UGM Menolak Pengkhianat Reformasi” dan “UGM Menolak Penjilat Rezim”. Diskusi langsung terhenti.

“Saya mau kok berdiskusi dengan mahasiswa, tapi sayangnya kondisinya sudah tidak kondusif,” ujar Budiman dalam keterangan tertulis.

Budiman mengaku sebenarnya ingin berdialog dengan massa yang menghampiri panggung. “Petugas keamanan mengkhawatirkan kondisi semakin tidak kondusif. Saya sendiri sebenarnya tidak keberatan tetap menemui mahasiswa di dalam gedung,” tambahnya.

Ketua Serikat Mahasiswa UGM, Bintang Mesa, menilai para pejabat itu tidak layak membicarakan Pancasila. “Selama mereka masih membungkam suara rakyat, menganggap kritik sebagai gangguan, dan membuang-buang uang rakyat dengan program nirmanfaat seperti MBG dan Kopdes Merah Putih,” ungkapnya.

Menteri Nusron Wahid mengaku terbuka memverifikasi langsung setiap persoalan yang disampaikan dalam diskusi. Sementara Wamentan Sudaryono membantah kabur. “Justru kami yang datang untuk berdiskusi. Bahkan saat mobil kami dicegat, kami keluar lagi dan duduk bersila di aspal untuk melanjutkan dialog,” katanya.

Baca Juga  Polda DIY Gelar Operasi Aman Nusa I Progo-2025, Fokus Cegah Konflik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *