Scroll untuk baca artikel

Tabligh Akbar 2026

HUT ke-23 Tanah Bumbu

Lihat Info
Opini

Mengapa Harus Don Kancil?

×

Mengapa Harus Don Kancil?

Sebarkan artikel ini

Oleh: Firdaus

 

Pintu gerbang rumah besar itu selalu riuh. Tapi semuanya tunduk pada satu ketukan dirigen. Ketika obrolan di kedai kopi mulai bergeser ke “geliat bayang-bayang sang mantan”, satu pertanyaan menyergap meja diskusi: mengapa harus Don Dasco jadi Mendagri?

Seorang kawan lama, dengan dahi berkerut, buru-buru menyodorkan ponselnya. Ia meminta rekam jejak digital sang tokoh diperiksa ulang. Tuduhan di jagat maya memang ramai. Tapi di panggung politik, tudingan sumir sering menguap seperti embun pagi — seperti riuh rendah tuduhan Amien Rais kepada Tedy yang lelap ditelan waktu.

Namun, dalam rimba politik Jakarta, rumor bukan sekadar gosip. Ia adalah bahasa sandi dari pergeseran lempeng kekuasaan.

Di balik dinding kokoh Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad bukan sekadar Ketua Harian. Di kalangan internal, ia adalah “Don” — sosok yang diindikasikan mengendalikan mesin politik. Di kalangan aktivis pers dan intelijen, Don juga dikenal dengan julukan “Ketua Umum DPR”.

Lingkaran dalam membisikkan satu skenario: jika badai politik berembus dan Presiden Prabowo mangkat, Dasco adalah sosok paling logis yang akan berdiri di palang pintu kekuasaan, mendampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Artinya, untuk wakil presiden saja Don Dasco pantas, apalagi hanya Mendagri. Dan seandainya usia Prabowo melampaui Pemilu 2029, Don Dasco pula yang mampu mengorkestrasi kemenangan Prabowo-Gibran jilid dua.

Kekuatan tersembunyi Don tidak tumbuh dari ruang hampa. Sedikitnya ada sembilan pilar yang menopang pengaruhnya:

Pertama, hukum. Sebagai mantan Wakil Ketua Mahkamah Kehormatan Dewan dan alumnus Komisi III, ia karib dengan para petinggi aparat penegak hukum.

Kedua, struktur partai. Sebagai ketua harian, jaringan instruksinya tegak lurus dari DPP hingga ranting di daerah.

Baca Juga  Krisis Timur Tengah dan Dampaknya ke Indonesia: Dari Minyak hingga Daya Beli

Ketiga, jaringan aktivis. Don piawai merangkul aktivis lintas generasi dan gerakan buruh untuk meredam demonstrasi.

Keempat, korporasi. Pengaruhnya menyusup halus dalam penataan pos strategis di berbagai BUMN.

Kelima, DPR. Posisinya sebagai Wakil Ketua DPR memudahkan ia mengamankan kebijakan strategis istana.

Keenam, media. Hubungan persuasif Don dengan para pemimpin redaksi, ditambah penempatan Dewas LPP dan komisaris BUMN di organisasi wartawan, memastikan narasi politiknya mendapat panggung yang teduh.

Ketujuh, bisnis. Latar belakangnya sebagai mantan direktur perusahaan keamanan dan firma hukum memberinya pasokan logistik yang kokoh.

Kedelapan, kaderisasi. Don mengorkestrasi kader muda di lingkar Hambalang yang disiapkan Presiden menyongsong Indonesia Emas 2045. Kelompok muda yang populer dengan sebutan Satria Jedi, kemudian bermetamorfosis menjadi Boys Hambalang, adalah jangkar utama Don mengorkestrasi agenda Presiden dengan berbagai kelompok.

Kesembilan, tak pernah jadi tersangka. Hingga kini, dugaan miring dalam jejak digitalnya belum pernah terbukti secara hukum. Tanpa ketukan palu hakim, “Don Kancil” dari Senayan ini tetap melenggang bebas, mengantongi semua kunci orkestrasi republik di sakunya.

 

(Penulis adalah Ketua Umum Serikat Media Siber Indonesia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *