Scroll untuk baca artikel

Tabligh Akbar 2026

HUT ke-23 Tanah Bumbu

Lihat Info
Pendidikan

Adaptasi Asrama Jadi Kendala, 6 Siswa Keluar dari Sekolah Rakyat Kota Malang

×

Adaptasi Asrama Jadi Kendala, 6 Siswa Keluar dari Sekolah Rakyat Kota Malang

Sebarkan artikel ini
Suasana pelajar saat makan siang bersama di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 22 Kota Malang
Sejumlah pelajar mengikuti kegiatan makan siang bersama di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 22 Kota Malang. Sistem pendidikan berbasis asrama di sekolah tersebut menjadi tantangan adaptasi bagi sebagian siswa pada masa awal pembelajaran

MALANG — Sebanyak enam siswa mengundurkan diri dari Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) Kota Malang pada masa awal pembelajaran. Kesulitan beradaptasi dengan sistem pendidikan berbasis asrama disebut menjadi alasan utama sebagian siswa memilih keluar.

Dari total 75 siswa yang diterima saat awal pembukaan, kini tersisa 69 siswa aktif yang mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut.

Wakil Kepala Kurikulum SRMA Kota Malang Hilwa Uchti Millinia mengatakan sejumlah siswa belum terbiasa menjalani kehidupan berasrama yang menuntut penyesuaian pola hidup secara cepat.

“Awalnya terdapat 75 siswa, namun saat ini tersisa 69 orang. Ada yang memutuskan keluar karena sakit, tidak terbiasa tinggal di asrama, hingga merasa rindu dengan keluarga,” ujar Hilwa, Minggu (10/5/2026).

Menurut dia, kehidupan di asrama membuat siswa harus beradaptasi dengan lingkungan baru, mulai dari berbagi kamar hingga menjalani aktivitas bersama teman sebaya selama 24 jam.

Dalam praktiknya, perbedaan kebiasaan sehari-hari menjadi tantangan tersendiri. Hal sederhana seperti pola tidur hingga penggunaan kipas angin disebut kerap memunculkan ketidaknyamanan di lingkungan asrama.

“Tidak semua anak terbiasa hidup bersama dalam satu ruangan. Adaptasi sosial menjadi tantangan tersendiri bagi mereka,” katanya.

Selain faktor adaptasi, beberapa siswa juga memilih kembali ke rumah karena alasan keluarga dan ekonomi. Bahkan, ada yang memutuskan bekerja dibanding melanjutkan pendidikan di sekolah berasrama tersebut.

Meski demikian, pihak sekolah berharap siswa yang keluar tetap melanjutkan pendidikan melalui jalur lain agar kesempatan belajar mereka tidak terhenti.

Tantangan tak hanya dirasakan siswa. Guru di SRMA juga dituntut berperan lebih dari sekadar pengajar, yakni mendampingi siswa membangun kembali motivasi belajar dan rasa percaya diri.

Pasalnya, sebagian siswa diketahui sempat putus sekolah dalam kurun waktu cukup lama sebelum akhirnya bergabung di SRMA. Kondisi itu membuat tenaga pendidik harus bekerja lebih intensif untuk membantu mengejar ketertinggalan akademik sekaligus mendukung proses adaptasi siswa di lingkungan baru.

Baca Juga  59 siswa SDN Mendawai 4 Sukamara Dapatkan Dana PIP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *