Jakarta — Kecelakaan maut antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, Senin (27/4) malam, menewaskan 14 orang dan melukai 84 lainnya. Peristiwa ini bermula dari rangkaian insiden beruntun di perlintasan dekat stasiun.
Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin mengatakan seluruh korban meninggal dunia telah dievakuasi ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi.
“Tercatat 14 orang meninggal dunia. Korban telah dibawa ke RS Polri Kramat Jati,” ujarnya, Selasa (28/4).
Rangkaian Peristiwa
Kecelakaan terjadi sekitar pukul 20.50 WIB di emplasemen Stasiun Bekasi Timur.
Insiden bermula dari sebuah mobil taksi yang mogok di perlintasan Jalan Ampera, tak jauh dari stasiun. Saat berada di tengah rel, kendaraan tersebut tidak dapat dihidupkan kembali meski telah didorong warga.
“Mobil mati di tengah rel. Sudah didorong tapi tidak kuat, lalu kereta datang dan menabrak,” kata Saman (55), warga setempat.
Taksi tersebut kemudian ditabrak rangkaian KRL dari arah berlawanan dan terseret hingga sekitar 100 meter.
Akibat kejadian itu, operasional kereta di sekitar lokasi terganggu. Salah satu rangkaian KRL Commuter Line yang melaju dari arah Jakarta menuju Cikarang berhenti di jalur Stasiun Bekasi Timur.
Dalam kondisi berhenti itulah, dari arah belakang melaju KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi.
Tabrakan tak terhindarkan. KA jarak jauh tersebut menghantam bagian belakang rangkaian KRL.
“Yang tertabrak gerbong paling belakang, gerbong khusus wanita,” kata Andi (42), penumpang selamat.
Benturan keras menyebabkan sejumlah gerbong mengalami kerusakan parah dan penumpang terluka hingga terjepit.
Perlintasan Tidak Resmi
PT KAI menyatakan penyebab pasti kecelakaan masih dalam penyelidikan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Namun, perlintasan di Jalan Ampera yang menjadi titik awal insiden diketahui bukan perlintasan resmi dan hanya dilengkapi palang buatan warga.
Pemerintah Kota Bekasi berencana mempercepat pembangunan flyover di kawasan Bulak Kapal untuk menghindari kejadian serupa.
“Jika flyover selesai, perlintasan bisa ditutup dan perjalanan kereta lebih aman,” ujar Wali Kota Bekasi Tri Adhianto.












