BANJARBARU – Kebakaran lahan kembali mengancam permukiman warga di kawasan Perumahan Familia Residence, Jalan Tambak Tarap, Kasturi 2, RT 40/RW 006, Kelurahan Landasan Ulin Utara, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (24/8/2026).
Api yang membakar lahan di belakang rumah warga mulai membesar sekitar pukul 12.00 WITA dan bergerak mendekati kawasan permukiman. Tiupan angin membuat kobaran api lebih cepat menjalar.

Berdasarkan keterangan warga, kebakaran di kawasan tersebut telah berlangsung sekitar sepekan. Sejumlah titik api muncul di wilayah RT 40, termasuk di sekitar kandang ayam dan kawasan ujung pasiran.
Dua unit mobil pemadam dari BPK Barokah Syamsudin Noor dan BPK Sepakat berada di lokasi untuk melakukan penanganan. Namun, proses pemadaman terkendala keterbatasan sumber air karena sejumlah titik sumber air di sekitar lokasi telah mengering.
Ketua RT 40, Hendri, mengatakan titik api yang mengkhawatirkan pada Senin siang berasal dari sekitar embung atau waduk sebelum merambat menuju permukiman.
“Hari ini yang sedikit parah, awal api dari embung atau waduk dan merambat menuju ke sini. Dari Jalan Sempati menyeberang. Kemarin sore sebenarnya api sudah menyeberang dan sempat dipadamkan di ujung sana, tetapi pagi tadi menjelang siang kembali membesar,” ujar Hendri saat ditemui di lokasi.
Menurut Hendri, kondisi lahan yang sebagian merupakan gambut turut menyulitkan proses pemadaman. Api dapat menjalar di bawah permukaan tanah sehingga titik api berpotensi kembali muncul.
“Untuk penanganan dari BPK sebenarnya cukup, Pak. Cuma kita di sini terkendala sumber air. Titik air yang ada di sini sudah kering,” tuturnya.
Warga bersama personel Masyarakat Peduli Api (MPA) terus melakukan pemantauan. Kelurahan Syamsudin Noor juga menyiagakan personel dan peralatan pemadam.
“Personel MPA sendiri standby. Di Kelurahan Syamsudin Noor juga siap siaga terus. Alat pemadam dari kelurahan juga ada dan disiapkan,” kata Hendri.
Ia menyebut sekitar 264 kepala keluarga (KK) berada di kawasan yang terdampak kebakaran dan asap. Menurutnya, paparan asap telah dirasakan warga sekitar 15 hari terakhir.
“Warga yang terdampak ada sekitar 264 KK dan sangat terdampak sekali. Asap dari daerah lain juga sudah dirasakan warga sekitar 15 hari,” ujarnya.
Api Menjalar dari Sejumlah Titik
Hendri mengatakan kebakaran sebelumnya melanda kawasan Alkah RW 07 dan kemudian merambat ke Alkah RW 06. Pada Senin, titik api kembali muncul di kawasan Alkah Santo Yosep.
“Terdampak ini mulai Alkah RW 07 sudah terbakar tadi, kemudian merambat lagi ke Alkah RW 06. Hari ini masuk Alkah Santo Yosep, ada tiga titik api. Yang parah justru komplek kita karena sangat terdampak,” katanya.
Menurut Hendri, titik api diduga berasal dari kawasan Jalan Sempati, tepatnya di belakang embung atau waduk. Kebakaran telah terjadi selama beberapa hari di lokasi tersebut.
“Memang titik apinya dari Jalan Sempati, belakang embung atau waduk. Itu sudah mulai beberapa hari. Karena lahannya gambut, jadi memang susah dikendalikan dan dipadamkan,” ujarnya.
Pihak kelurahan sebelumnya telah membentuk MPA dan memberikan pelatihan penanganan kebakaran dengan melibatkan Manggala Agni.
Hendri meminta pemilik lahan kosong di sekitar permukiman rutin membersihkan lahannya agar tidak dipenuhi semak yang mudah terbakar.
“Harapan kami kepada pemilik tanah atau lahan kosong yang terbengkalai di daerah ini agar rutin dibersihkan supaya tidak rimbun. Rata-rata pemilik lahan di sini bukan orang sini,” katanya.
Ia juga meminta penambahan sarana pemadam untuk mempercepat penanganan apabila kebakaran kembali terjadi.
“Sebagai warga kami selalu standby terus 24 jam. Kami juga berharap pemerintah bisa menyediakan mobil water cannon untuk daerah kita di sini,” ujar Hendri.
Warga Cemas Api Mendekati Rumah

Ernawati, warga yang rumahnya berbatasan dengan lahan terbakar, mengaku panik ketika melihat api bergerak mendekati bagian belakang rumahnya.
“Sempat saya merasa takut tadi. Sebelumnya, api dari belakang sana sudah sekitar 10 hari atau lebih. Tapi menyasarnya baru hari ini, sampai dekat rumah,” ujar Ernawati.
Ia mengatakan warga merasa tidak tenang karena api semakin mendekati permukiman. Ernawati meminta penanganan kebakaran di kawasan tersebut dapat dilakukan lebih cepat.
“Kami berharap Pemerintah Kota Banjarbaru bisa peduli kepada kami yang tinggal di pinggir hutan ini. Kalau bisa, pemadam ada yang standby setiap hari di sini, sehingga kalau terjadi kebakaran bisa cepat ditangani,” katanya.
Selain ancaman api, Ernawati juga menyoroti dampak asap terhadap kesehatan warga, terutama gangguan pernapasan.
“Penanganan kesehatan warga juga perlu diperhatikan, terutama kesehatan pernapasan agar tidak terkena ISPA. Selama ini belum ada penanganan khusus dari pihak terkait. Harapan saya semuanya dibenahi supaya kami tidak terdampak lagi seperti ini,” ucapnya.












