YOGYAKARTA – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X meluncurkan Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) di Gedung Rektorat Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Kamis (20/8/2026).
PKJ akan masuk dalam pembelajaran di perguruan tinggi di DIY. Penerapannya menjadi bagian dari kesepakatan antara Pemerintah Daerah (Pemda) DIY dan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah V Yogyakarta.

Sri Sultan mengatakan PKJ bertujuan memperkenalkan kekhasan Yogyakarta dalam lingkungan pendidikan tinggi sekaligus menerjemahkan nilai-nilai Kejogjaan melalui kegiatan akademik.
“Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang cakap secara teknis, tetapi juga harus membentuk manusia yang mampu memahami dampak ilmu, Tmenentukan arah, serta bertanggung jawab atas pilihan yang diambil,” kata Sri Sultan di kampus UNY.
Menurut Sri Sultan, kerja sama dengan LLDikti Wilayah V membuka ruang penerapan PKJ melalui kegiatan perkuliahan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan budaya kelembagaan perguruan tinggi.
Sri Sultan juga menggambarkan keraton sebagai horizon nilai, kampus sebagai pusat daya kritis berbasis pengetahuan, dan kampung sebagai ruang kehidupan tempat ilmu serta nilai diterapkan.
Kepala LLDIKTI Wilayah V DIY Prof. Setyabudi Indartono mengatakan kegiatan tersebut diikuti 244 peserta dari 123 perguruan tinggi. Peserta berasal dari perguruan tinggi negeri dan swasta di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, perguruan tinggi di bawah Kementerian Agama, serta perguruan tinggi kementerian dan lembaga lainnya.
Masing-masing perguruan tinggi mengirimkan dua peserta, yakni pimpinan perguruan tinggi dan satu pendamping dari bidang akademik atau dosen yang memiliki keterkaitan dengan PKJ.
Setyabudi menyebut PKJ memiliki tiga tujuan, yakni memperkenalkan Pendidikan Khas Kejogjaan yang berlandaskan budaya Ngayogyakarta Hadiningrat dan konsep Widya Saka Tunggal, membahas penerapannya di perguruan tinggi, serta menanamkan nilai-nilai PKJ kepada pimpinan, dosen, dan mahasiswa.
Program tersebut juga diarahkan untuk membentuk sosok Jalma Kang Utama dengan jiwa Satriya Ngayogyakarta: sawiji, greget, sengguh, ora mingkuh.
Rektor UNY Prof. Dr. Sumaryanto mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan tersebut di kampus UNY. Ia menyatakan UNY bersama perguruan tinggi di DIY siap melaksanakan arahan Gubernur DIY terkait penguatan Pendidikan Khas Kejogjaan.
“UNY tidak dapat meninggalkan empat K, yaitu kampus, kraton, kantor, dan kampung,” ujarnya.
Sumaryanto mengatakan UNY menerapkan salah satu bentuk penguatan identitas Kejogjaan melalui penggunaan gagrak Mataraman setiap Kamis Pon. UNY juga mendorong fakultas menjadi bagian dalam penerapan PKJ, termasuk Fakultas Bahasa, Seni, dan Budaya (FBSB) serta Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Dr. Brian Yuliarto turut mengapresiasi penyelenggaraan Byawara PKJ.
Ia menyebut nilai-nilai Yogyakarta, seperti mangayu hayuning bawana, sawiji, greget, sengguh, ora mingkuh, dan golong gilig, dapat menjadi bagian dalam pembentukan lulusan yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus memiliki karakter dan integritas.
Brian berharap kegiatan tersebut menghasilkan langkah konkret serta model integrasi PKJ dalam pembelajaran dan pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi.












