Scroll untuk baca artikel

Tabligh Akbar 2026

HUT ke-23 Tanah Bumbu

Lihat Info
Hiburan

Gelombang Lokal 2026 di Malang: Merah, Monkey Rude, Silly Fragments Tembus Kurasi

×

Gelombang Lokal 2026 di Malang: Merah, Monkey Rude, Silly Fragments Tembus Kurasi

Sebarkan artikel ini
Gitaris tampil di panggung Gelombang Lokal Malang.

Malang – Gelombang Lokal Malang 2026 sukses menjadi ruang pertemuan karya, komunitas, dan cerita dari Kota Malang. Acara digelar 22 Mei 2026 di FBN Artisantz Coffee & Eatery.

Musisi nasional dan lokal seperti Bluewaves, Eastcape, dan Rumah Sakit turut meramaikan. Ada juga Talkshow with Curator dan Zine Showcase yang mempertemukan musisi, kreator, komunitas, serta penikmat musik dalam satu ruang kolaborasi.

Program utama tahun ini adalah Band Submission. Puluhan band dari berbagai genre mengikuti seleksi. Tiga kurator dari latar belakang industri musik yang berbeda menilai: Fajrin Nitipraja (Founder Pop Rising), Jeff Winanda (Music Publicist & Writer Terpapar Musik), dan Jul Muttaqien (Vokalis Eastcape).

Dari proses kurasi, terpilih tiga band yang dinilai mampu merepresentasikan keberagaman wajah musik Malang: Merah, Monkey Rude, dan Silly Fragments.

Ketiganya hadir dari generasi, pengalaman, dan pendekatan musikal yang berbeda. Mencerminkan luas dan berwarnanya perkembangan musik independen di Kota Malang.

Merah: Alternative Rock Generasi Baru

Merah menarik perhatian kurator lewat pendekatan alternative rock modern yang dekat dengan generasi muda.

Jul Muttaqien menyebut Merah sebagai unit alternative rock dengan sentuhan pop-punk yang kuat. Fajrin Nitipraja melihat mereka sebagai representasi rock modern yang relevan dengan selera pendengar saat ini.

Lewat lagu “Bara”, Merah menghadirkan refleksi tentang perjalanan hidup yang semakin kompleks seiring bertambahnya usia. Di balik energi dan distorsi, tersimpan pesan tentang keberanian terus berjalan meski harus menghadapi tantangan sendiri.

“Perasaan kami sangat senang. Ini salah satu panggung terbaik Merah. Gelombang Lokal bukan hanya menghadirkan pertunjukan musik, tetapi juga membuka ruang diskusi dan pembelajaran yang sangat bermanfaat bagi musisi,” ujar Juang Pratama, vokalis dan bassis Merah.

Baca Juga  DanzQ Rilis Single Pop Rock “Tak Lekang Oleh Waktu”, Angkat Kisah Cinta yang Abadi

Monkey Rude: Menjaga Semangat Ska Reggae

Jika Merah mewakili wajah baru alternative rock, Monkey Rude hadir sebagai representasi musisi yang telah tumbuh bersama skena lokal selama lebih dari satu dekade.

Terbentuk sejak 2012 di wilayah timur Malang, Monkey Rude dikenal lewat pendekatan ska reggae yang hangat, enerjik, dan dekat dengan semangat komunitas.

Kurator melihat Monkey Rude sebagai band dengan fondasi komunitas kuat dan kemampuan mempertahankan identitas musikal di tengah perubahan tren.

“Gelombang Lokal menjadi ruang yang sangat penting bagi musisi lokal. Acara ini membuktikan bahwa karya-karya dari Malang masih memiliki tempat dan apresiasi besar dari masyarakat,” ujar Indrajid, vokalis Monkey Rude.

Lewat lagu “Jangan Harap”, mereka menghadirkan cerita tentang pengkhianatan dalam hubungan dan pentingnya menghargai ketulusan seseorang sebelum semuanya terlambat.

Silly Fragments: Dream Pop dari Generasi Muda

Silly Fragments menjadi nama paling muda di antara jajaran Top 3. Band beranggotakan empat perempuan ini mencuri perhatian kurator lewat karakter dream pop dan alternative pop yang segar, personal, dan dekat dengan pengalaman generasi muda.

Jul Muttaqien menyebut mereka sebagai “wonderkids dreampop”. Fajrin Nitipraja menilai Silly Fragments memiliki potensi besar untuk berkembang lebih jauh.

Lewat single debut “And Remains”, mereka mengangkat kisah patah hati remaja yang dibalut dengan nuansa musik ceria dan dreamy.

“Walau kami punya kesibukan masing-masing, Silly Fragments selalu menjadi tempat kami pulang, beristirahat, dan tumbuh bersama. Musik menjadi ruang untuk bercerita sekaligus belajar banyak hal dalam perjalanan kami sebagai band,” ungkap Amo, vokalis dan gitaris Silly Fragments.

Menurut mereka, Gelombang Lokal membuktikan bahwa generasi muda memiliki ruang yang aman dan suportif untuk berkembang tanpa dibatasi genre maupun stereotip.

Baca Juga  "Goyang Yok", Senjata Baru Jojo Yanda untuk Hibur Pecinta Dangdut

Merayakan Keragaman Musik Malang

Terpilihnya Merah, Monkey Rude, dan Silly Fragments menunjukkan bahwa musik Malang hari ini tidak bergerak dalam satu warna saja.

Alternative rock modern, ska reggae yang tumbuh dari semangat komunitas, hingga dream pop generasi baru bisa hidup berdampingan dalam ekosistem yang sehat dan saling mendukung.

Bagi Gelombang Lokal, ketiga band ini bukan hanya pemenang kurasi, tetapi juga representasi kreativitas, keberagaman, dan semangat kolaborasi yang terus tumbuh di Kota Malang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *