TANAH LAUT — Lonjakan harga plastik hingga 50 persen mulai menekan pelaku usaha mikro dan kecil (UMKM) di Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Kenaikan ini tidak hanya meningkatkan biaya operasional, tetapi juga berpotensi memicu kenaikan harga jual di tingkat konsumen.
Sejumlah pedagang di Pasar Pelaihari mengaku terpaksa mengurangi penggunaan plastik atau mempertimbangkan menaikkan harga produk untuk menutup biaya tambahan.
Di tengah kondisi pasar yang masih sepi pembeli, kenaikan harga plastik memperparah tekanan terhadap pelaku usaha kecil, khususnya sektor kuliner yang sangat bergantung pada kemasan plastik.
“Kalau harga plastik terus naik, mau tidak mau kami harus menyesuaikan harga jual,” ujar salah satu pedagang.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan (Diskopdag) Tanah Laut H. Khairul Rijal menyebut kenaikan harga ini dipicu faktor global, terutama terganggunya pasokan minyak dunia akibat konflik geopolitik.
Ia menjelaskan sekitar 70 persen bahan baku plastik nasional masih bergantung pada impor, sehingga harga di dalam negeri ikut terdampak.
“Ini bukan hanya terjadi di daerah, tapi secara nasional. Tanah Laut sebagai daerah penerima sangat tergantung pada pasokan luar,” ujarnya.
Kondisi ini dinilai berpotensi memicu efek berantai terhadap inflasi daerah, terutama jika pelaku usaha mulai menaikkan harga barang dan jasa.
Pemerintah daerah berharap pemerintah pusat segera mengambil langkah stabilisasi harga, mengingat persoalan ini telah menjadi isu nasional.
Sementara itu, pelaku usaha dan masyarakat diimbau melakukan efisiensi penggunaan plastik sebagai solusi sementara di tengah tekanan harga.












