BATULICIN — Kabupaten Tanah Bumbu berduka. Salah satu tokoh sentral dalam sejarah pemekaran daerah, H. Hasudungan bin H. Ca’bu, meninggal dunia pada Minggu (8/2/2026) sekitar pukul 03.00 WITA di RSU As-Syifa Banjarbaru. Almarhum wafat pada usia 63 tahun.
Kepergian H. Hasudungan tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga, tetapi juga bagi masyarakat yang mengenalnya sebagai figur vokal dan konsisten memperjuangkan terbentuknya Kabupaten Tanah Bumbu.
Tokoh asal Kecamatan Simpang Empat ini tercatat sebagai bagian dari Panitia Penuntut Pemekaran Kabupaten Tanah Bumbu. Ia dikenal aktif menyuarakan aspirasi masyarakat dan menjalin komunikasi politik hingga tingkat pusat, termasuk melakukan lobi ke Kementerian Dalam Negeri dalam proses pembentukan daerah otonom baru.
Perjuangan pemekaran Tanah Bumbu sendiri berlangsung panjang. Upaya awal tercatat sejak 1959 melalui panitia penuntut di Pagatan, namun terhenti pada 1972. Gerakan kembali menguat pada Agustus 2000 dengan melibatkan perwakilan delapan kecamatan, termasuk H. Hasudungan.
Pada 2001, kepengurusan panitia direvisi dengan Jayadi Hasan sebagai ketua dan Syamsul Bahri sebagai sekretaris. H. Hasudungan tetap aktif menggalang dukungan melalui musyawarah dengan tokoh masyarakat serta studi banding ke Kabupaten Penajam, Kalimantan Timur, yang lebih dahulu dimekarkan.
Dalam proses tersebut, panitia tercatat melakukan 17 kali perjalanan ke Jakarta, 20 kali ke Surabaya, empat kali ke Kalimantan Timur, serta puluhan kali pertemuan dengan pemerintah daerah induk. Ratusan surat juga dikirimkan sebagai bagian dari upaya administratif dan advokasi.
Perjuangan panjang itu berujung pada disahkannya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2003 pada 25 Februari 2003 yang menetapkan Kabupaten Tanah Bumbu sebagai daerah otonom baru.
Selain dikenal sebagai pejuang pemekaran, H. Hasudungan juga berkiprah sebagai pengusaha di bidang konstruksi serta aktif di sejumlah organisasi, termasuk KADIN dan APINDO. Ia pernah menjabat Staf Khusus Bupati Tanah Bumbu periode 2021–2024 dan menjadi Wakil Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Tanah Bumbu. Di masa mudanya, ia juga tercatat sebagai pemain Persiko Kotabaru pada era 1980-an.
Perwakilan keluarga, Muslim Ma’in, menyebut almarhum sebagai sosok yang mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk memperjuangkan kepentingan daerah.
“Almarhum bukan hanya panutan keluarga, tetapi juga pejuang daerah. Perjuangan pemekaran yang beliau jalani penuh pengorbanan,” ujarnya.
Menurut keluarga, nilai keberanian, kejujuran, dan komitmen terhadap pembangunan daerah diharapkan dapat menjadi teladan bagi generasi muda.
Nama H. Hasudungan kini tercatat dalam sejarah lahirnya Kabupaten Tanah Bumbu bersama sejumlah tokoh lain yang terlibat dalam proses pemekaran. Meski telah berpulang, jejak pengabdian dan perannya dalam perjalanan daerah otonom tersebut tetap menjadi bagian dari memori kolektif masyarakat Bumi Bersujud.












